LABEL

Anda bisa mendapatkan Warta Desa di sini, di Blog : aimprintings.blogspot.com, blog ini menyajikan berita Desa untuk para perantau yang ingin mengetahui perkembangan desa Slangit

Minggu, 30 Juni 2013

Kumpulan Puisi-Puisiku

Puisi ini adalah Puisi dari karyaku yang memang tidak cukup bagus tapi ini sebagai curahan dari hati ku
Puisi-puisi ini adalah sebagian yang masih tersisa dari catatanku yang telah hilang sejak tahun 2000, tapi mudah-mudahan aku bisa menemukannya lagi. amin ....
JAGAD KU”
Bumi adalah Jagadku
Bayu itulah Jiwaku
Surya Asal dari Hatiku
Tirta Jelmaan Batinku
Fana Merupakan Jagadku
Jasad Beda dengan Jiwa
Jiwa Bukanlah Hati
Hati Tak Sama dengan Batin
Batin Lain dari Jasad
Semua Berbeda tapi Tetap Serupa
Jiwa Terada dalam Jasad
Jasad tak Terada dalam Jiwa
Hati tak Terada dalam Batin
Hati Terada dalam Jasad
Jasad tak Terada dalam Hati
Hati tak Terada dalam Jiwa
Jiwa tak Terada dalam Hati
Batin tak Terada dalam Jasad
Batin Terada dalam Hati
Batin Terada dalam Jiwa
Jiwa tak Terada dalam Batin
Jagad tak Terada bila Jasad tak Terada
Jasad tak Terada bila Jiwa tak Terada
Teradanya Jasad, Teradanya Hati
Teradanya Jiwa Teradanya Batin
Teradanya Jasad Teradanya Jagad
Jasadku Malam, Jiwaku Kelam
Jiwaku Gelap Batinku Pekat
Jagadku …..
Ya Jagadku …..
Ya Jagadku …..
Sanged
Cirebon, 28 September 2004


“TERPURUK”


Sendiri Aku Tersisi …
Tersudut di Hujung Dunia
Keluh, Desah, Tangis, dan Rintih
Menghiasi Hari Demi Hari
Tak Seorangpun yang Perduli …
Teman, Kawan, dan Sahabat
Berada Jauh di Hujung Seberang
Berdiri Kokoh Membelakang
Tiada Geming Sorot Pandang
Jalanku Jauh dari Terang
Melangkah Terhenyak, dan Terjatuh
Tersungkur di Gelap Jalanan
Sekali lagi Tiada yang Perduli
Ku Coba Berdiri …
Bengkit dari Keterpurukan-Ku!
Kuhentakan Kaki dan Tangan ini
Mengangkat Beban Tubuh yang Semakin Memberat
Tiada Setengah Berdiri …
Tubuhku Terkulai lagi Mencium Bumi
Hingga Patah Kakiku tak dapat Berdiri
Ingin Aku Berteriak …
Menjerit …
Menaingis …
Tapi Percuma … !
Nafasku Tersendak
Suaraku Hilang Ditelan Gelap
Air Mataku Habis Terkikis
Dengan Tenaga yang Tersisa
Kujulurkan Tangan ke Depan
Meraba ke Samping Kiri dan Kanan
Tak Ku Temukan Rerumputan, Tiada Pepohonan
Untukku Jadikan sedikit Pegangan
Menyeret Tubuh yang Menjadi Beban
Lelah Ku Meraba, Lelah Ku Mencari
Lelah Ragaku, Lelah Jiwaku
Lelah Batin yang Tiada Tara
Membiarkan Tubuhku Dikrumuni Satwa
Biar … Biarlah Aku Pasrah
Batinku Menangis dan Merintih
Tuhan …
Engkau Biarkan Aku Dihidang Para Satwa
Biaraku Pasrah Segalanya Pada-Mu
Dulu, Sekarang, dan Selamanya …
Tetaplah Merangkulku dalam Kuasa-Mu
Sendiri Aku Tersisi …
Tersudut di Hujung Dunia
Keluh, Desah, Tangis, dan Rintih
Menghiasi Hari Demi Hari
Biarlah Aku Tetap Hamba-Mu …


Sanged
Cirebon, 1 Januari 2006


“KEFANAAN SURGAWI DUNIA”
Sebelas Kurcaci Berdiri di Pantai
Memandang Gulungan Air Membelah Pasir
Berurut datang Silih Berganti
Sang Jingga Menarih Bersama Buih
Tebarkan Intan di Selokah Raya
Serentak Kurcaci Menengadahkan Teja
Merawai Percik Kemilau di Angkasa
Dawai Ombak Melagukan Kidung Surga
Bersahutan Si Camar Melengkingkan Lirik Alam
Lirih Siulan Ke Sebelas Kurcaci
Berpadu Satu dalam Irama Kalbu
Terdengar Indah, Melantun di Sanubari
Membias Di Sukma, Terpenjara di Jeruji Hati
Menggentarkan Nadi, Menyadarkan Diri
Akan Kenikamatan Kidung Fana Duniawi
Kesebelas Kurcaci Tertunduk Merenung
Diiringi Bersemayamnya Sang Jingga
Gulungan Air Merata dan Melemah
Si Camar Terbius dalam Gelap yang Merambah
Kurcaci …
Mencari-cari Apa yang Dianggap Ada
Di Sana Ada … Tapi Terlihat Kegelapan
Di Sana Ada … Tapi Terdengan Kesunyian
Di Sana Ada … Tapi Terasa Kehampaan
Ialah Dunia yang Dipenuhi Kefanaan
Senja Telah Berganti Malam
Kurcaci Kembali Pulang Kepelukan Alam
Berganti Mimpi dalam Tabir Ke-abadian
Sanged
Cirebon, Desember 2005



“KANVAS SUKMA”
Membias Jiwa di Temaram Senja
Kian Menawan Curahan Asa
Tak Tergelincir Batu Kerikil
Tak Goya Godaan yang Se-Cuil
Gemuruh Terlukis di Kanvas Sukma
Ba’ Pelangi Bergantung di Cakrawala
Meratap Tak Pedih di Hati
Merana Tak Perih Meretas Diri
Cela … Memang di Cela…
Nista Memang dinista …
Bila Sang Angkara Menjadi Raja
Tertunduk Mata Melihat Jeriji Kaki
Tak Kuasa Hati Mengingat Illahi
Merah Merona Sang Sukma Nirmala
Nirmala Menjelma dalam Selubung Jiwa
Mengganti Angkara di Termin Rasa
Menjelmalah Rasa, …
Rasa Yang Sempurna
Manusia Lunglai dalam Kuasa Illahi
Hilang tak Terbersit Kefanaan Dunia
Terbuai Aroma Nikmat Surga
Cirebon, Desember 2005

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar